Desa Brondong, Kawasan Hitam Di Pesisir Lamongan

DESA BRONDONG, KAWASAN HITAM DI PESISIR LAMONGAN

TEROPONG-MEDIA.COM | SEJARAH - kawasan Brondong sejak dulu memang dikenal sebagai kawasan paling hitam di banding wilayah-wilayah pesisir Lamongan lainnya (orang Lamongan asli pasti tahu soal ini). Cerita orang tua dulu, Desa Brondong sudah dikenal masyarakatnya yang gemar sekali berjudi, mabuk, aktivitas prostitusi, pergaulan muda-mudinya yang over dan banyak hal negatif yang disematkan bagi warga sini. Melihat kondisi geografis Desa Brondong yang dekat dengan laut, juga mayoritas masyarakatnya yang berprofesi sebagai nelayan, hal tersebut rupanya berpengaruh juga pada karakter masyarakatnya. Makanya, orang-orang pesisir, terutama masyarakat Brondong dikenal sangat keras dan kasar. Bahasa-bahasa kotor pun sudah jadi hal biasa, baik ibu ke anak atau anak ke orang tua. Artinya, bicara soal norma dan etika, boleh dibilang masyarakat disini sangat rendah. Stigma negatif soal masyarakat Desa Brondong sendiri sepertinya masih bertahan sampai sekarang (Catatan: warga brondong atau Lamongan asli, bisa dikonfirmasi kebenarannya). 

Salah satu cerita populer soal stigma buruk terhadap desa dan masyarakat Brondong ini, dulu pernah terjadi musibah angin puting beliung. Jadi anginnya muncul dari tengah laut, kemudian bergerak menuju daratan sampai masuk pemukiman desa. Dari cerita orang tua, Desa Brondong porak-poranda dan banyak jatuh korban kala itu. Saat peristiwa terjadi, masyarakat desa bukannya menyebut lafadz takbir, melainkan kata-kata jorok, "jembot sak kadot" (bulu kemaluan sekarung). Konon ceritanya, ketika angin puting beliung mulai naik ke darat, masyarakat Brondong pada teriak 'jembot sak kadot' sambil tangannya nyabutin rambut kemaluan dan rambut kemaluannya dilempar-lempar ke udara. Jadi katanya, mereka percaya kalau itu bisa menahan/menghentikan bala. Dari orang-orang sepuh, mereka pada bilang itu sebagai adzab bagi warga desa. Jadi ini juga mengkonfirmasi, bahwa masyarakatnya disana memang sejak dulu dikenal sangat jauh dari agama. Dan sampai sekarang, stigma buruk itu masih lekat. Warga asal Desa Brondong seperti mendapat kutukan, mereka selalu dianggap buruk dan nakal. Jadi kalau misal ada laki-laki desa tersebut mau menikah atau sekedar pacaran dengan gadis dari luar desa, pasti langsung ditolak. Intinya, boleh menikah/pacaran asal tidak dengan laki-laki/perempuan dari Desa Brondong. Saking buruknya, bahkan sampai ada omongan kalau mau mencari tempat tinggal di Lamongan, kawasan pesisir Lamongan itu lebih makmur ketimbang bagian wilayah selatan, tapi jangan pernah coba-coba tinggal di kawasan Brondong.  

Melihat kondisi geografis, latar belakang dan karakter masyarakat Brondong, sangat bisa dimaklumi kenapa sejak dulu banyak tokoh ulama yang mungkin bisa dianggap "gagal" mendakwahkan Islam di wilayah ini. Padahal wilayah ini termasuk kawasan ramai dan padat karena dilewati jalur pantura (Jalan Raya Daendles) dan menjadi komoditas pusat perdagangan ikan yang cukup besar (sekarang namanya TPI Brondong). Jalur pantura sejak dulunya juga menjadi perlintasan dakwah para Wali Songo, seperti Sunan Drajat, Sunan Kali Jaga, Sunan Bonang, Sunan Giri, atau Sunan Gresik. Jadi sepanjang jalur pantura Lamongan, mulai dari Desa Cumpleng, Pambon, Sedayulawas, Blimbing, hingga timur Paciran, Desa Brondong menjadi desa satu-satunya yang belum bisa sentuh masyarakatnya. Dan itu, mitosnya sampe sekarang. Bahkan di zaman PKI dulu, kawasan Brondong menjadi satu-satunya wilayah basis mereka untuk wilayah pesisir Lamongan. Orang Brondong asli, pasti tahu beberapa bangunan bekas markas PKI dulu yang masih ada sampai sekarang, salah satunya terminal lama Brondong.      

Jadi soal cerita kalau di desa ini masyarakatnya dikutuk, ini sudah jadi cerita legenda dari kakek-nenek dulu. Konon, masyarakat Desa Brondong dulu disumpah (bukan dikutuk) oleh sorang wali seperti apa yang disampaikan di dalam cerita (narasumber). Karena sudah banyak dakwah disampaikan para wali sebelumnya, namun kondisinya tak kunjung berubah. Dan salah satu sumpahnya, bahwa warga desa ini tidak boleh berjodoh/menikah dengan warga dari luar desa karena dikhawatirkan akan membawa petaka buruk dalam keluarganya nanti. Dan menariknya, sumpah (kutukan) ini juga masih dipercaya sampai sekarang. 

Cerita-cerita mistis atau urban legend yang terjadi soal desa atau masyarakat desa ini, itu sangat banyak sekali. Dan apa yang diceritakan sama narasumber di atas, itu hanya satu dari sekian banyak cerita mistis lainnya yang biasa kita dengar dari para orang tua dulu.

FYI, jarak Brondong (Lamongan) - Surabaya sekitar 70 km dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam melewati Tol Manyar, Gresik. Di tahun 90-an, dulu belum ada kendaraan angkutan umum dari Brondong ke Surabaya langsung. Alasanya, selain tidak banyak penumpang ke arah Surabaya atau sebaliknya, jarak tempuh yang jauh, kondisi jalanan yang buruk, juga harus melewati kawasan hutan. Selain angker dan rawan kecelakaan, kawasan hutan ini dulunya sering terjadi perampokan dan begal. Makanya, para sopir kendaraan tidak ada yang berani melewati kawasan ini saat malam hari. Sampai sekarang, kalau mau ke Surabaya dengan kendaraan umum, biasanya masyarakat pantura harus naik angkutan umum ke Kota Tuban dulu, baru menumpang bis menuju Surabaya.

Sumber: Komentar di Akun Youtube Lentera Malam

(H/S)

Posting Komentar untuk "Desa Brondong, Kawasan Hitam Di Pesisir Lamongan"